Cerita dari TK B
Nolan masuk di TK B di sekolah dekat rumah pada tahun ajaran kemarin, dan pembelajaran masih dilakukan secara daring di awal masuk, tapi di bulan Oktober 2021, sekolah memberlakukan PTMT, 2 x dalam 1 minggu.
Di bulan November minggu kedua, gurunya memberitahu saya bahwa Nolan mengganggu teman-temannya, berjalan2 di kelas, memegang rambut, memegang kaki, tidak fokus di kelas sama sekali, dan ketika ditegur, Nolan marah, memukul meja, dan menjerit-jerit.
Sepanjang jalan pulang dari sekolah, ia terlihat sekali tidak nyaman, tapi saya tunda hingga sampai di rumah untuk bertanya lebih jauh.Setelah berganti pakaian, minum susu, saya ajak dia bicara tentang apa yang dialami di sekolah. Dia bilang kalau dia tidak suka sekolah. Sekolah tidak menyenangkan dan teman-teman mengganggunya. Ia menangis dan bilang kalau dia tidak mau sekolah lagi.
Saya memeluknya erat, lalu dia minta ditinggal sendiri. Saya berikan waktu dia untuk sendirian, dan panggil saya ketika sudah merasa lebih baik. Dari sudut cerita guru adalah dia merasa terganggu karena biasa Nolan duduk dengan Valerie, dan hari ini diubah ke teman lainnya. Mulai dari situ, ia terlihat tidak nyaman, dan ketika pelajaran berlangsung, ia tidak fokus dan mulai mengganggu temannya. Singkat cerita, ia terlalu sensitif dengan apa yang temannya lakukan, dan ia merasa perlakuan temannya (yang padahal hanya bertingkah polah sewajarnya) membuatnya tidak nyaman. Di rumah pun, jika ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman, misal tidak bisa melakukan sesuatu, atau bosan, reaksi pertamanya adalah marah. Jika ditegur ketika melakukan sesuatu yang saya nilai agak berbahaya, reaksi pertamanya adalah marah. Dan jika sudah tersulut dan meledak, ia cenderung memukul, melempar, membanting, sambil menjerit sekuat tenaganya.
Kejadian ini berlangsung beberapa kali lagi setelahnya. Saya selalu tahu kalau Nolan itu berbeda dari teman-temannya, dan terlihat kentara jika ia berada di dalam grup. Ia kesulitan berteman dan bersosialisasi, ia beberapa kali bilang ke saya kalau tidak ada teman yang mengerti dirinya. Saya akui kendala bahasa menjadi penghalang utama, keterbatasan kemampuan bicara serta intonasi ketika bicara bahasa Indonesia, membuat ia aneh di hadapan teman-temannya. Sedangkan teman-teman lain tidak ada yang mengerti bahasa Inggris.
Saya yang 24/7 bersama Nolan pun tahu jika topik pembicaraan ketika berbahasa Inggris, terus berputar di tema game Minecraft, Kirby, dan Sonic. Jadi, tidak banyak yang bisa benar-benar mengerti topik pembicaraannya kecuali saya.
Pertimbangan bahwa Nolan akan masuk usia SD dan perilakunya di sekolah sekarang, membuat saya waspada. Apa bisa di masuk SD dengan segala tanggung jawab tugasnya? Apa siap dia berada di kelas dengan jumlah siswa berpuluh-puluh sedangkan di kelas TK yang berisi 8 anak pun ia masih berjuang? Apa perlu saya mempertimbangkan homeschooling? Atau juga sekolah internasional yang begitu mahal untuk ukuran keluarga kami?
Kami putuskan membawa Nolan ke psikolog anak, untuk bertukar pikiran tentang apa sih yang sebenarnya terjadi dengan Nolan. Saya perlu mendapatkan jawaban pasti, apakah ada sesuatu yang membuat Nolan begitu kesulitan dengan emosinya, atau hanya sekedar masalah perilaku buruk karena kurang terampil berkomunikasi?
Karena saya tahu persis, dibalik marahnya itu, ia anak yang luar biasa cerdas, periang, penyayang, lucu, dan juga sedikit aneh yang membuat ia makin luar biasa.
Comments
Post a Comment